Jumat, 28 Oktober 2011

Diam Setelah Membaca Al Fatihah

عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ سَكْتَتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْكَرَ ذَلِكَ عِمْرَانُ بْنُ الْحُصَيْنِ فَكَتَبْنَا إِلَى أُبَيِّ ابْنِ كَعْبٍ بِالْمَدِينَةِ فَكَتَبَ أَنَّ سَمُرَةَ قَدْ حَفِظَ قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْنَا لِقَتَادَةَ مَا هَاتَانِ السَّكْتَتَانِ قَالَ إِذَا دَخَلَ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا فَرَغَ مِنَ الْقِرَاءَةِ ثُمَّ قَالَ بَعْدُ وَإِذَا قَرَأَ ( غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ) قَالَ وَكَانَ يُعْجِبُهُمْ إِذَا فَرَغَ مِنَ الْقِرَاءَةِ أَنْ يَسْكُتَ حَتَّى يَتَرَادَّ إِلَيْهِ نَفَسُهُ

Dari Qatadah dari Hasan Al Bashri dari Samurah ia berkata,” Ada dua  kali diam yang saya ingat dari Rasulullah.” Imran bin Husain mengingkarinya dan mengatakan,” Yang kami hafal hanya ada satu kali diam.” Maka kami menulis surat kepada Ubay bin Ka’ab di Madinah. Maka Ubay  menulis jawabannya,” Samurah yang hafal (pendapatnya benar –pen). Sa’id (perawi) bertanya kepada Qatadah,” Apa dua kali diam itu ?” Qatadah menjawab,” Diam setelah masuk dalam sholat dan jika selesaid ari membaca.” Qatadah lalu berkata,” Dan jika selesai membaca (wa laa adh dhaalin)”. Beliau senang bila diam sesaat setelah selesai membaca (Al Fatihah) sekedar kembalinya nafas (tidak terengah-engah setelah membaca al fatihah –pen).[1]
Di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat tentang diam dalam sholat :
1-      Tidak ada diam dalam sholat ; sehingga tidak disunahkan membaca doa iftitah, isti’adzah dan diamnya imam setelah membaca surat. Ini pendapat imam Malik.
2-      Dalam sholat hanya ada satu kali dian, yaitu diam untuk membaca doa iftitah. Ini pendapat Abu Hanifah.
3-      Dalam sholat ada dua kali diam, sebagaimana disebutkan dalam hadits dalam as sunan. Tapi diriwayatkan dalam hadits tersebut bahwa beliau diam setelah selesai membaca (surat), dan inilah yang benar. Juga diriwayatkan bahwa beliau diam setelah membaca al fatihah, sehingga sekelompok murid imam Syafi’i dan Ahmad menyatakan disunahkan tiga kali diam.
Diam setelah membaca al fatihah, menurut para murid imam Syafi’i dan sekelompok murid imam Ahmad, adalah agar makmum membaca al fatihah. Yang benar, tidak disunahkan kecuali dua kali diam. Dalam hadits memang tidak disebutkan selain hal ini (dua kali diam), sementar salah satu dari dua riwayat ini salah, sebab kalau tidak salah tentulah ada tiga kali diam. Inilah yang ditegaskan oleh imam Ahmad, bahwa tidak ada diam kecuali dua kali saja. Diam yang kedua adalah ketika telah selesai membaca surat untuk beristirahat dan sebagai pemisah antara membaca surat dengan ruku’.
Adapun diam setelah membaca al fatihah, imam Ahmad tidak menganggapnya sunah. Demikian pula imam Malik dan Abu Hanifah. Jumhur ulama tidak menyatakan sunahnya imam diam setelah membaca al fatihah agar makmum membaca al fatihah. Alasannya, bacaan makmum jika imam sudah membaca dengan keras, hukumnya tidak wajib, juga bukan disunahkan, bahkan dilarang.[2]
Imam Ibnu Qudamah menyatakan,” Mustahab (sunah) bagi seorang imam untuk diam sesudah membaca al fatihah sekedar istirahat dalam qira’ah. Dan bagi makmum untuk membaca al fatihah, supaya tidak ada anggapan bahwa al fatihah telah dihapus. Inilah madzhab Al Auza’i, Syafi’i dan Ishaq.”[3]
Imam Ahmad dan kebanyakan murid beliau tidak menyenangi bagi makmum membaca al fatihah ketika imam diam, kecuali kalau diamnya imam dalam waktu yang lama yang memungkinkan makmum untuk  membaca doa iftitah dan al fatihah. Apabila diamnya imam sebentar, maka lebih utama baginya membaca doa iftitah daripada membaca al fatihah. Namun bila diamnya imam dalam waktu lama, membaca al fatihah lebih utama daripada tidak membaca.
Wajibnya membaca al fatihah bagi makmum dalam sholat jahr sendiri masih diperselisihkan ulama. Mayoritas menyatakan makmum tidak perlu membaca al fatihah, karena bacaan imam adalah bacaan makmum juga. Karena itu, kalaupun ada waktu diam setelah bacaan al fatihah imam, imam Ahmad dan para murid beliau lebih senang membaca surat lain mengingat bacaan al fatihah sudah didengar dari bacaan imam.
Ulama yang melarang makmum membaca al fatihah dalam sholat jahr adalah mayoritas ulama salaf dan khalaf, berdasar dalil-dalil dari Al Qur’an dan as sunah. Ulama yang mewajibkan membaca al fatihah bagi makmum dalam sholat jahr, haditsnya dilemahkan oleh para ulama.[4]
Dari keenam sanad hadits Samurah bin Jundub yang menerangkan diamnya imam setelah membaca al fatihah atau surat lain, kesemuanya dilemahkan oleh para ulama.[5]  Dengan demikian, tidak ada dalil shahih yang secara tegas memerintahkan imamuntuk diam setelah membaca al fatihah dengan tujuan makmum bisa membaca al fatihah. Wallahu a’lam bish shawab.



[1] - HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Al Baihaqi 2/58, Ad Daruquthni 1/336, dan Al Hakim 1/223, diriwayatkan dengan enam sanad dengan lafal sedikit berlainan. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan adz Dzahabi (Al Majmu’ Syarhu Al Muhadzab 3/297). Dilemahkan syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil no. 505.
[2] - Majmu’ Fatawa 23/338-339. Lihat juga Zaadul Ma’ad 1/201.
[3] - Al Mughni  1/490.
[4] - Majmu’ Fatawa 23/ 339-340.
[5] - Irwaul Ghalil 2/284-288.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Runtuhnya Democrazy,, Saatnya Revolusi.....!!!!!!!!


Keruntuhan Demokrasi sudah di ambang pintu. Hal itu ditandai dengan Revolusi Tunisia yang berhasil mengusir diktator demokrasi Ben Ali, yang kemudian berlanjut dengan  Revolusi Mesir yang berhasil menggulingkan diktator demokrasi Husni Mubarok. Angin revolusi mulai berhembus ke sejumlah Negara Demokrasi Arab seperti  Al-Jazair, Yaman, Lybia dan Syria. Bahkan negara-negara Demokrasi Monarki Arab pun mulai terusik, seperti  Maroko, Yordania, Saudi, dan negara-negara Teluk.

Selama ini Sistem Demokrasi hanya melahirkan diktator-diktator  dunia, dan menghasilkan koruptor kelas kakap, bahkan menciptakan kapitalis-kapitalis internasional yang rakus dan serakah. Sistem Demokrasi adalah  sumber problem yang banyak melahirkan gerombolan mafioso dan generasi oportunis, sekaligus merupakan wadah tempat bersemayamnya anjing-anjing penjilat kekuasaan. Hal tersebut  karena  Sistem Demokrasi merupakan pintu masuk kaum Kapitalis untuk meraih kekuasaan.

One man one vote dalam Sistem Demokrasi telah memberi peluang kepada kaum borjuis untuk membeli suara rakyat, sehingga saat berkuasa mereka berlomba mengeruk kekayaan untuk mengembalikan modal beli suara, sekaligus mengais keuntungan sebesar-besarnya.  Sistem Demokrasi merupakan sumber malapetaka dan kehancuran.
Sistem Demokrasi penuh intrik dan tipu muslihat, karena sistem ini selalu bertopeng kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, musyawarah dan mufakat. Padahal, justru sistem ini yang paling tidak berperikemanusiaan, lihat saja bagaimana negara-negara sekutu atas nama Demokrasi memporak-porandakan Iraq dan Afghanistan. Justru sistem ini yang paling tidak menghargai kesetaraan, buktinya kulit berwarna masih menjadi warga kelas dua di negara-negara Barat yang menganut demokrasi. Justru sistem ini yang paling tidak adil, buktinya secara terang-terangan mereka melarang warga muslimah di negeri mereka untuk berjilbab.

Soal musyawarah mufakat dalam Sistem Demokrasi hanya omong kosong. Inti Demokrasi adalah suara terbanyak, bukan musyawarah mufakat. Selain itu musyawarah dalam Demokrasi bisa menghalalkan yang haram, dan bisa pula mengharamkan yang halal. Yang penting tergantung suara terbanyak. Buktinya, Sistem Demokrasi dengan suara terbanyak bisa membolehkan perkawinan sejenis (Homo dan Lesbi), lokalisasi pelacuran, legalisasi perjudian, legitimasi aliran sesat, formalisasi korupsi dan halalisasi segala keharaman. Dan sebaliknya, Sistem Demokrasi dengan suara terbanyak juga bisa melarang jilbab, cadar, tabligh, da’wah, hisbah, pembangunan masjid, madrasah dan pesantren.

ISLAM vs DEMOKRASI

Antara Sistem Islam dan Sistem Demokrasi memiliki perbedaan yang sangat besar dan mendasar serta fundamental, sehingga keduanya mustahil disatukan. Islam dan Demokrasi bagaikan langit dan bumi, umpama matahari dan bulan, seperti lautan dan selokan. Dalam rangka membuka Topeng Demokrasi, maka perlu diuraikan beberapa perbedaan yang sangat prinsip dan fundamental antara Sistem Islam dan Sistem Demokrasi.

Pertama, Sistem Islam berasal dari sumber ilahi karena datang dari wahyu Allah Yang Maha Agung dan Maha Suci, sehingga bersifat sangat sempurna. Sedang Sistem Demokrasi berasal dari sumber insani karena datang dari akal manusia yang lemah dan penuh kekurangan, sehingga sangat tidak sempurna. Karenanya, dalam Sistem Islam hukum dari Allah SWT untuk manusia, sedang dalam Sistem Demokrasi hukum dari manusia untuk manusia.

Kedua, dalam Sistem Islam wajib digunakan Hukum Allah SWT, sedang dalam Sistem Demokrasi wajib digunakan keputusan suara terbanyak. Karenanya, Sistem Islam tunduk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedang Sistem Demokrasi tidak tunduk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ketiga, dalam Sistem Islam tidak dipisahkan antara agama dan negara, sedang dalam Sistem Demokrasi dipisahkan antara agama dan negara. Karenanya, Islam menolak pemahaman sekuler dan segala bentuk sekularisasi dalam berbangsa dan bernegara. Sedang Demokrasi memang lahir dari penentangan terhadap  agama, sehingga Demokrasi selalu mengusung sekularisasi dalam berbangsa dan bernegara.

Keempat, dalam Sistem Islam standar kebenaran adalah akal sehat yang berlandaskan Syariat, sedang dalam Sistem Demokrasi standar kebenaran adalah akal sakit yang berlandaskan hawa nafsu kelompok terbanyak. Karenanya, dalam Sistem Islam baik buruknya sesuatu ditentukan oleh Syariat, dan wajib diterima oleh akal sehat. Sedang dalam Sistem Demokrasi baik buruknya sesuatu tergantung hawa nafsu orang banyak, walau pun tidak sesuai Syariat atau pun tak masuk akal sehat.

Kelima, dalam Sistem Islam tidak sama antara suara Ulama dengan suara Awam, antara suara orang Sholeh dengan suara orang jahat. Sedang dalam Sistem Demokrasi suara semua orang sama : Ulama dan Koruptor, Guru dan Pelacur, Santri dan Penjahat, Pejuang dan Pecundang, Pahlawan dan Bajingan, tidak ada beda nilai suaranya. Karenanya, dalam Sistem Islam hanya orang baik yang diminta pendapatnya dan dinilai suaranya, itu pun suara mereka tetap disebut sebagai suara manusia. Sedang dalam Sistem Demokrasi semua orang baik dan buruk disamakan, bahkan suara mereka semua disebut sebagai suara Tuhan.

Keenam, musyawarah dalam Sistem Islam hanya menghaqkan yang haq dan membathilkan yang bathil, sedang dalam Sistem Demokrasi boleh menghaqkan yang bathil dan membathilkan yang haq. Karenanya, dalam Sistem Islam tidak ada Halalisasi yang haram atau haramisasi yang halal, apalagi haramisasi yang wajib, sedang dalam Sistem Demokrasi ada halalisasi yang haram, dan haramisasi yang halal, bahkan haramisasi yang wajib.

Ketujuh, asal-usul Sistem Islam sudah dimulai sejak zaman Nabi Adam AS, karena sejak Allah SWT menciptakan Adam AS sudah dinyatakan sebagai Khalifah di atas muka bumi sebagaimana firman-Nya dalam  QS.2.Al-Baqarah : 30. Dan Sistem Islam tersebut sempurna di zaman Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kaidah dan tatanan kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang beliau praktekkan bersama para Sahabat yang mulia. Allah SWT menyatakan kesempurnaan Islam dalam QS.5.Al-Maidah : 3. Sedang Sistem Demokrasi konon katanya sudah ada sejak zaman Yunani kuno, tapi yang jelas baru muncul pasca Revolusi Kebudayaan Perancis pd Th.1789 M, yang kemudian lahir Teori Trias Politika karya Rossou, yang kemudian terus dikembangkan dengan berbagai variasi dan aksesoris, dan hingga saat ini tidak pernah sempurna, bahkan makin hari makin tampak bobrok dan busuknya.

Kedelapan, rentang waktu antara sempurnanya Sistem Islam di abad ke-7 pada zaman Nabi SAW (571 – 632 M) dan munculnya Sistem Demokrasi di abad ke 18 pasca Revolusi Kebudayaan Perancis Th.1789 M, menunjukkan bahwa Sistem Islam sekurangnya lebih dulu 11 abad dari pada Sistem Demokrasi. Karenanya, jika ada persamaan antara Sistem Islam dan Sistem Demokrasi, maka bisa dipastikan bahwa Sistem Demokrasi yang menyontek dan menjiplak Sistem Islam, mustahil sebaliknya.

Kesembilan, Sistem Islam telah membuktikan diri sebagai sistem terbaik yang adil, jujur dan amanah sepanjang kepemimpinan Rasulullah SAW dan Khulafa’ Rasyidin, serta berhasil mengantarkan umat Islam menjadi umat yang terbaik, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.3. Ali-’Imran : 110. Sedang Sistem Demokrasi sejak kelahirannya hingga kini tak pernah berhasil membuktikan diri sebagai  sistem terbaik, bahkan sebaliknya, makin hari makin terkuak bobrok dan rusaknya.

Kesepuluh, Sistem Islam adalah bagian dari kewajiban agama, sehingga penerapannya mendatangkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Sedang Sistem Demokrasi bukan bagian dari kewajiban agama, bahkan merupakan penentangan terhadap agama, sehinggga penerapannya hanya akan mendatangkan dosa dan malapetaka.

ISLAM YES, DEMOKRASI NO !
Dengan uraian di atas, jelas sekali bahwa Sistem Islam mengungguli Sistem Demokrasi dalam semua hal. Mulai dari keautentikan sumber dan kesempurnaannya, lalu kepatuhan kepada Syariat dan kesehatan akalnya, kemudian keaslian musyawarah dalam makna yang sebenarnya, dan kemurnian asal-usul sejarah serta keindahan peradabannya, hingga keberhasilan pembuktiannya sebagai sistem terbaik yang mendatangkan pahala dan keberkahan ilahi.
Itulah karenanya, para pemuja Demokrasi iri dan dengki terhadap Sistem Islam, dan mereka tidak rela Sistem Islam bangkit dan berjaya kembali.  Dalam dunia informasi, tiada hari tanpa propaganda media yang selalu menyudutkan Sistem Islam. Berbagai ucapan, perkataan dan pernyataan terus-menerus dilontarkan untuk memadamkan cahaya Islam. Namun demikian, cahaya Islam akan tetap bersinar, dan akan kembali memperoleh masa jayanya, sebagaimana Allah SWT firmankan dalam QS.61.Ash-Shaff : 8 – 9 dan QS.9.At-Taubah: 32 – 33.

Kamis, 15 September 2011

Ukhti Fillah.... Jagalah Izzah dan Iffahmu... ^_^

Bismillah

Dua hal yang harus dijaga oleh seorang Muslimah adalah Izzah dan Iffah....
Izzah adalah Kehormatan perempuan sebagai seorang Muslimah,sedangkan
Iffah adalah bagaimana seorang Muslimah dapat menjaga Kesucian dirinya dengan menjadikan malu sebagai pakaian mereka.saya pernah diskusi dengan seorang Akhwat yang menyatakan bahwa fenomena yang saat ini sedang menggeluti para aktivis dakwah adalah masalah VIRUS MERAH JAMBU !

Bahkan ada Akhwat yang dengan berani menyatakan perasaannya kepada seorang Ikhwan secara gamblangnya.
Padahal Bunda Khadijah ra telah mencontohkan dengan santun bagaimana mengungkapkan perasaannya kepada seorang Muhammad yang notabene secara strata sosial lebih rendah kedudukannya daripada Khadijah.Bagaimana beliau mencontohkan kepada kita semua tentang hakikat menjaga Izzah dan Iffah sebagai seorang Muslimah.

Saya mengungkapkan keresahan hati ini bukan karena saya tidak tahu bagaimana rasanya Jatuh Cinta,justru karena saya pernah jatuh cintalah maka saya ingin berbagi rasa.

"Jika engkau jatuh cinta pendamlah rasa itu dan jangan kau tampakkan.Mohonlah kepada Allah agar menjadi tenang.Jika kau mati dalam keadaan bersabar niscaya kau akan beruntung mendapatka Syurga."(Taman orang orang yang jatuh cinta dan memendam rindu)

Sungguh...

Seorang Akhwat sejati lebih suka apabila seorang Ikhwan benci atau takut padanya karena dianggap keras dan sangar wajahnya...

Dibandingka ia harus menjadi fitnah bagi mereka akibat senyumannya...

Dibandingkan ia harus menjadi penyebab kemaksiatan di hati saudara-saudaranya,akibat terlalu lembutnya suaranya...

Dibandingkan ia harus menjadi penyebab futurnya mereka karena kecrobohan dan kelalaiannya dalam menjaga izzah sebagai seoarng Muslimah.

Afwan...

Itulah prinsipku...

Mungkin caraku dan caramu berbeda...

Sebab pengalaman atas kecerobohanku dulu dan pengetahuan akan begitu buruknya fitnah seorang wanita bagi pria telah memberikan banyak pelajaran berarti padaku tentang pentingnya menjaga Izzah seorang Muslimah...

"Ya Allah.ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui,janganlah Engkau menyiksaku karena apa yang mereka ucapkan dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka perkirakan..."(Doa Ali ra)

aamiin Ya Rabby....

Selasa, 13 September 2011

Ku Pinang Kau dengan Syahadat

Wahai saudaraku ….
Andai kau tahu
Debu yang menempel pada kakimu fii sabiilillah 
Dapat menyelamatkanmu dari neraka jahannam
Kenapa kau tinggalkan jihad…??!!


Wahai saudaraku….
Andai kau faham
Sekejap dalam medan jihad
Dapat mengharuskanmu
Menikmati kenikmatan dan keindahan jannatun na'iim
Kenapa memilih selain jihad…??!!

Wahai saudaraku….
Andai kau mengerti
Berak dan kencingnya kudamu fii sabilillah
Bernilai pahala bagimu disisi Robbmu
Kenapa bimbang untuk berjihad…??!!

Wahai saudaraku ….
Andai kau tahu
Timah panas yang mengoyak tubuhmu
Dapat menghantarmu
Memeluk mesra bidadari jelita
Kenapa takut berjihad…??!!

Wahai saudaraku ….
Andai kau faham
Dentuman bom yang mencabik-cabik dagingmu
Dapat menyibukkanmu
Bercanda ria dipangkuan bidadari jelita
Selama berpuluh-puluh tahun tanpa bosan
Kenapa ragu untuk berjihad…??!!

Wahai saudaraku….
Andai kau mengerti
Ledakan mortir yang meremukkan tulang belulangmu
Dapat menghantarmu
Berbaring mesra
Diatas kasur dalam kamar mempelai
Bersama bidadari yang tidak pernah hilang keperawanannya
Kenapa enggan berjihad…??!! 

Wahai saudaraku….
Andai kau faham
Tetesan darah pertama
Yang kau tumpahkan di medan jihad
Dapat menghapuskan semua dosa-dosamu
Tidak ada pilihan lain bagimu selain jihad…??!!

Duhai ……saudaraku …..
Seandainya engkau faham……
Seandainya engkau mengerti……
Seandainya engkau tahu…….
Seandainya engkau berakal…….
Engkau pasti memilih jihad…!!!!!!!!

Sabtu, 10 September 2011

Tokoh yang ku dambakan 2.. ^.^


Dialah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekah. Karenanya, tidak ada kabilah yang dapat membelanya, menolongnya, dan mencegah kezaliman atas dirinya. Sebab, dia hidup sebatang kara, sehingga posisinya sulit di bawah naungan aturan yang berlaku pada masa jahiliyah.
Begitulah Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindugannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Hudzaifah, sehingga akhirnya dia dinikahkan dengan budak wanita bernama Sumayyah. Dia hidup bersamanya dan tenteram bersamanya. Tidak berselang lama dari pernikahannya, lahirlah anak mereka berdua yang bernama Ammar dan Ubaidullah.
Tatkala Ammar hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki, beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah saw kepada beliau. Akhirnya, berpikirlah Ammar bin Yasir sebagaimana berpikirnya penduduk Mekah. Karena kesungguhan dalam berpikir dan fitrahnya yang lururs, maka masuklah beliau ke dalam agama Islam.
Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah saw, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh barakah tersebut dan bahkan mengumumkan keislamannya, sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.
Dari sinilah dimulainya sejarah yang agung bagi Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar terbit untuk yang pertama kalinya.
Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat, sehingga orang-orang kafir tidak menanggapinya, melainkan dengan pertentangan dan permusuhan.
Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari din mereka, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir tatkala keadaannya sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan di atas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad… Ahad…,beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Yasir, Ammar, dan Bilal.
Suatu ketika Rasulullah saw menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa degan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru:
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Jannah.”
Sumayyah mendengar seruan Rasulullah saw, maka beliau bertambah tegar dan optimis, dan dengan kewibawaan imannya dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”
Begitulah, Sumayyah telah merasakan lezat dan manisnya iman, sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Di hatinya telah dipenuhi akan kebesaran Allah Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para taghut yang zalim. Mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya ekalipun hanya satu langkah semut.
Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya, Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah saw.
Tatkala para taghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah, maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah. Maka terbanglah nyawa beliau yang beriman dan suci bersih dari raganya. Beliau adalah wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan. Beliau telah mengerahkan segala apa yang beliau miliki dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Rabbnya.“Dan mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanannya.”

Tokoh yang ku dambakan.. ^.^

UMMU KHANSA'




Ada pepatah yang tak asing di telinga kita: :Di belakang tokoh mulia, pasti ada wanita mulia". 
Al-Khansa’ bin Amr, sosok wanita mulia itu, adalah salah satunya. Shahabiyah (sahabat wanita Rasulullah SAW.) ini sukses mengantarkan keempat putranya menjadi mujahid sejati, hingga mereka meraih kedudukan paling mulia: menjadi syuhada.

Al-Khansa’ adalah penyair wanita pertama dan utama. Ia penyair dua zaman: zaman Jahiliah dan zaman Islam. Para sejarahwan sepakat bahwa sejarah tak pernah mengenal wanita yang lebih jago bersyair daripada al-Khansa’, sebelum maupun sepeninggal dirinya.

Tatkala mendengar dakwah Islam, al-Khansa’ datang bersama kaumnya, Bani Sulaim, menghadap Rasulullah SAW. dan menyatakan keislaman mereka.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa al-Khansa’ dan keempat putranya ikut serta dalam Perang al-Qadisiyyah. Menjelang malam pertama mereka di al-Qadisiyyah, al-Khansa’ berwasiat kepada putra-putranya:

Anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah Yang tiada tuhan yang haq selain Dia. Kalian adalah putra dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putra dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan paman kalian, juga nenek moyang kalian dan tak pernah menyamarkan nasab kalian.

Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah, negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik daripada dunia yang fana ini. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung (TQS Ali Imran [2]: 200).

Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuh kalian dari Ilahi.

Jika pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, dan habisi pemimpin mereka saat perang tengah berkecamuk. Mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan..

Terdorong oleh nasihat ibunya, esoknya keempat putranya maju ke medan perang dan tampil dengan gagah berani. Mereka bangkit demi mewujudkan impian sang ibunda. Tatkala fajar menyingsing, majulah keempat putranya menuju kamp-kamp musuh. Sesaat kemudian, dengan pedang terhunus, anak pertama memulai serangannya sambil bersyair: Saudaraku, ingatlah pesan ibumu/tatkala di waktu malam menasihatimu/Nasihatnya sungguh jelas dan tegas: majulah dengan geram dan wajah muram/ Yang kalian hadapi hanyalah anjing-anjing Sasan/yang mengaum geram/Mereka telah yakin akan kehancurannya/maka pilihlah kehidupan tenteram/atau kematian penuh keberuntungan.

Ibarat anak panah, anak pertama melesat ke tengah-tengah musuh dan berperang mati-matian hingga akhirnya gugur sebagai syuhada.

Berikutnya, giliran anak kedua maju menyerang sembari melantunkan syair: Ibunda, wanita hebat dan tabah/pendapatnya sungguh tepat dan penuh hikmah/Ia perintah kita dengan cahaya/sebagai nasihat tulus bagi putranya/Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka/dan raihlah kemenangan nyata/atau kematian mulia di Surga Firdaus yang kekal selamanya.

Kemudian ia bertempur hingga titik darah penghabisan, menyusul saudaranya ke alam baka, menjadi syuhada.

Selanjutnya anak ketiga ambil bagian. Ia maju mengikuti jejak saudaranya, seraya bersyair: Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibunda/perintah yang sarat kasih dan cinta/Sebagai bakti nan tulus dan kejujuran/majulah dengan gagah ke medan perang/hingga pasukan Kisra tunggang-langgang/atau biarkan mereka terang/bagaimana cara berjuang/Jangan mundur karena itu tanda pecundang/raihlah kemenangan meski maut menghadang.

Kemudian ia terus bertempur hingga terbunuh sebagai syuhada.

Tibalah giliran anak terakhir yang menyerang. Ia maju seraya melantunkan syair: Aku bukanlah anak al-Khansa’ maupun Akhram/tidak juga Amr atau leluhur mulia/Jika tak menghalau pasukan Ajam/melawan bahaya dan menyibak barisan tentara/Demi kemenangan yang menanti dan kejayaan/ataukah kematian di jalan yang lebih mulia.

Ia lalu bertempur habis-habisan. Akhirnya, ia pun gugur, juga sebagai syuhada.

Tatkala mendengar keempat putranya gugur sebagai syudaha, al-Khansa’ malah dengan tenang berkata, “Segala pujian milik Allah Yang telah memuliakanku dengan kesyahidan mereka. Aku berharap kepada Allah agar Dia mengumpulkan aku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.” (Lihat: Al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashhab, II/90-91. Lihat juga: Nisa’ Hawl ar-Rasul).


Tentu, lahirnya para mujahid dan para syuhada tak mungkin tiba-tiba. Mereka tercipta melalui proses pendidikan serta pembinaan yang amat panjang, yang penuh dengan kesungguhan dan pengorbanan. Tak lupa, mereka juga adalah produk dari sebuah keteladanan. Al-Khansa’ adalah seorang mujahidah. Wajar jika dari rahimnya lahir pula para mujahid. Wajar pula jika seorang ulama (seperti Imam Syafii) lahir dari ibunda yang juga ulama. Juga wajar jika seorang pengemban dakwah dan pejuang Islam sejati lahir dari ibunda yang sama: ibunda pengemban dakwah dan pejuang Islam sejati. Sudahkah sosok itu ada dalam diri para orangtua, khususnya para ibunda? Jika belum, mungkinkah akan lahir generasi pengemban dakwah dan pejuang Islam sejati; atau akan lahir generasi para ulama besar seperti Imam Syafii; atau akan lahir generasi para syuhada, sebagaimana halnya putra-putra al-Khansa’?

Semoga kita sebagai orangtua, khususnya para ibunda, bisa seperti al-Khansa’: menjadi ummu syuhada’ (ibunda para syuhada). Amin...

Selasa, 06 September 2011

Jalan Cinta kepada sang Khaliq

" Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku ( Muhammad SAW. ), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu . Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. 3:31)


Segala puji bagi Allah Ta’ala, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in serta kepada siapa saja yang mengikuti jejak mereka sampai hari Qiyamat.
Nafsu-nafsu syahwat bergelimpangan tercecer terus menerus di televisi dan radio, nyanyian-nyanyian seronok, cerita dan filem bohong dan selera rendah tidak bermutu, adegan haram, aurat terbuka, campur baur laki-perempuan, itu bisa didengar dan dilihat oleh kita. Naudzubillah bila diri kita ikut terjebak di dalam alur syetan macam itu.
Inilah kondisi yang akan membuat hati manusia kotor, seperti cermin bersih yang tercoreng bletok. Sehingga telinga, mata dan hatinya saat ayat Al Qur’an dan hadist ditulis atau dibacakan, hati ber-aksi keras. Matanya hanya bengong, dan hatinya tidak dapat memahami apa yang sudah dibacakan itu tadi. Rasulullah pernah ingatkan, Surga itu dibayang-bayangi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan neraka itu dibayang-bayangi oleh kobaran nafsu syahwat.
Yang parah lagi, jika hati seseorang itu loyo, lemah mental, dalam menghadapi kehidupan, baik berfikir tentang diri sendiri maupun keluarga, apalagi masyarakatnya. Imam Syafi’i berkata, jika anda takut hidup, mati saja. Jika anda takut mati, jangan hidup. Artinya, kalau memang kita ditaqdirkan Allah hidup, pasti Allah tidak membiarkan kita dalam keadaan lapar, pasti dia akan menjamin dan memberi rizki dari arah mana saja Ia datangkan, tapi ingat, itu semua harus lewat usaha. Bukankah Allah telah ingatkan lewat ayat-Nya yang berbunyi, Dan orang yang yakin dan bersungguh-sungguh di dalam JALAN KAMI, pasti akan kami beri dia jalan penyelesaiannya.
Kesempatan kita untuk beramal yang benar dan baik masih ada. Namun aneh, kadang seorang bersikap pura-pura tidak tahu dan tidak dengar, pura-pura lemah, pura-pura sibuk dengan dunianya, sehingga dia betul-betul tenggelam dalam berpura-pura. Tidak jelas dan tidak bisa diambil pijakan bicaranya. Apakah kita ini termasuk orang yang ke-srimpet dalam hal tersebut. Mari kita evaluasi kekurangan diri kita sebelum dievaluasi oleh orang lain.
Betulkah kita ingin masuk surga. Apakah cara masuk surga itu dengan jalan dan cara kita sendiri ? Atau dengan cara-cara yang dibuat oleh hawa nafsu manusia yang berdasar otak dan syahwatnya. Sikap macam apa ini. Surganya siapa memang. Memang surganya sendiri ? Surga adalah milik Allah Ta’ala, maka jika seseorang ingin masuk ke dalamnya, ia harus mengikuti tata - cara-Nya. Siapa ingin masuk surga ia harus CINTA kepada Allah.
Ibnu Umar berkata : mengenai ayat di atas, Rosulullah bersabda bahwa seorang mukmin tidak akan bisa sempurna imannya sampai ia menuundukkan hawa nafsunya, kemudian mengikuti apa yang datang darinya. ( Al Qur’an dan As-Sunnah )
Abu Darda' berkata : maksud mengikuti Rasul di dalam ayat tersebut adalah ikut di atas kebajikan, taqwa, tawadhu' dan rendah diri di kalangan mukminin, secara teori maupun prakteknya.
Al Hasan dan Ibnu Juraij berkata : suatu ketika orang-orang berkumpul dan mengaku bahwa dirinya adalah mencintai Allah dengan berkata, " Kami cinta kepada Rab kami," lalu turunlah ayat tersebut di atas. Allah hendak menguji ucapan-ucapan yang mereka lontarkan. Kemudian para Sahabat benar-benar mengikuti Rasulullah lewat amalannya setelah pengakuan lisannya. Dalam riwayat yang lain Al Hasan mengutip sabda Nabi, Siapa benci terhadap Sunnahku, maka ia bukan dari ummatku. Kemudian Nabi membacakan ayat tersebut.
Sahal bin Abdillah berkata : Tanda cinta Allah adalah cinta Al Qur’an, tanda cinta Al Qur'an adalah cinta Nabi, tanda cinta Nabi adalah cinta Sunnah-nya, tandanya cinta kepada Allah, Al Qur’an, Nabi dan Sunnahnya dia berarti cinta kepada Akhirat, tanda cinta akhirat berarti cinta dirinya sendiri, tanda cinta diri sendiri adalah hendaklah ia jauhi dunia, tanda jauhnya dari dunia adalah ia mengambil darinya hanya sekedar bekal hidup atau penegak tulang rusuk agar kuat dan sempurna ibadahnya.
Al Maroghi berkata : Sesungguhnya cara mencintai Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah, dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan yang telah dibawanya, dengan demikian seseorang akan mendapat ampunan dari Allah atas dosa-dosanya.
Ibnu Katsir berkata : ayat tersebut untuk memberikan raport kepada orang-orang yang mengaku dirinya cinta kepada Allah dengan raport yang bohong/dusta atas dirinya, kecuali kalau pengakuannya itu dibarengi dengan mengikuti Al Qur'an dan As-Sunnah yang terwujud lewat perkataan dan perbuatannya sebagaimana sabda Rasul : Siapa yang beramal tanpa ada dasar dari kami, maka tertolaklah amalanya.
Maka jujurlah sikap seorang mukmin, ucapanya sesuai dengan hati dan anggota badannya. Jika seseorang mengaku dirinya mukmin, tiga point tersebut merupakan refleksi pola hidupnya. Sehingga betul-betul bermutu tinggi dan kesatria tindakannya.
PERINGATAN DIRI DAN KELUARGA
1. Jika jiwa seseorang masih tertempel kotoran amal / dosa, mana mungkin dia akan sampai cintanya kepada Allah. Kalau begitu, cinta berarti masih kepada hawa nafsu.

2. Sudahkah kita betul-betul cinta kepada Allah ? Atau kita masih lebih cinta/condong kepada hal-hal yang berselera rendah, dasar-dasar pola pikir manusia, baik dari segi obrolan, pendengaran ataupun rutinitas hariannya ? Jawabnya adalah terletak dalam diri masing-masing.
Surga harus diraih dengan jalan cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah tidak akan sampai, kecuali dengan cinta / mengikuti Rasulullah SAW. Cinta, pasti ada pengorbanan. Dalam hal ini, hawa nafsu, sikap ego, seenaknya sendiri, harus dikorbankan dan diredam demi cintanya kepada Allah SWT. Kemudian tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya.
[ Lihat Tafsir Al Qur’anul Adhim 1/358. Ruhul Ma’ani, 2/129. Al Qosimi, 4/84. Al Jami liahkamil Qur’an, 4/59. Jamiul Bayan, 3/232. Ad-Durrul Mantsur, 2/177. Al Usus Fie Tafsir, 2/733. Taisir Ali Al Qodir,1/265. Fathul Qodir,1/419. Al Kasy-Syaf, 1/319. Bada’iut Tafsir Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah, 1/497. Al Manar, 3/284 ]